Selasa, 07 Januari 2020

Abdus Salam, Cendikiawan Muslim Yang Terlupakan




Selama ini kontribusi islam di bidang iptek kurang mendapatkan penghargaan. Sebagian orang menganggap bahwa islam gelap dalam bidang keilmuan, karena yang mereka ketahui hanya bangsa barat yang memiliki keahlian paling mutakhir dalam bidang ilmu pengetahuan. Stereotip tersebut yang timbul karena memang sedikit sekali cendikiawan yang beragama Islam, terutama ahli dalam bidang ilmu fisika. Butuh waktu beberapa tahun untuk mematahkan pernyataan tersebut, karena nyatanya pada abad ke-20 baru terdengar cendikiawan beragama Islam, yang menerima penghargaan dan pengakuan tingkat dunia, beliau adalah Mohammad Abdus Salam. Ada tiga ahli yang diantaranya merupakan pendahulu dirinya seperti Albert Einstein, Niles Bore, dan Ernest Rutherford. Abdus Salam menjadi primadona dari antara para ahli fisika teoritis dari abad yang baru saja lalu, karena identitasnya sebagai seorang Muslim dari Pakistan yang berjuang agar negara-negara berkembang mau berinvestasi di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Hal ini juga bertujuan agar mereka dapat menunjang prospek ekonominya sendiri kelak. Namun banyak yang tidak percaya dengan keahlian yang dimiliki oleh Abdus Salam, karena latar belakang yang dimiliki olehnya yaitu seorang penganut aliran Ahmadiyah.


Siapakah Dia?

Mohammad Abdus Salam, merupakan warganegara Pakistan yang merupakan sosok pria biasa dan terlahir di keluarga sastra sosial menengah. Ayahnya seorang guru di sekolah yang ada di Pakistan, juga sosok yang mendukung penuh edukasi yang ingin ditempuh Salam. Sisi intelektual Salam yang luar biasa membuat dirinya mendapatkan kesempatan pendidikan kelas satu bahkan ketika ia masih anak-anak. Pada usia 14 tahun, ia masuk ke Perguruan Tinggi di Lahore, setelah mampu mencapai nilai tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah penerimaan murid di Perguruan Tinggi tersebut.
Mohammad Abdus Salam, lahir pada 29 Januari 1926 di Jhang, Punjab, Ia seorang cendikiawan yang menekuni theoretical physics. Abdus Salam saat ini diakui sebagai ikon dan sumber ilham dari kebangkitan sains di dunia Islam. Salam nyaris menghabiskan seluruh hidupnya untuk fisika, mengerahkan seluruh materi yang dimilikinya untuk mengembangkan kualitas pendidikan di Pakistan kala itu.
Pada 1979, Mohammad Abdus Salam memenangkan penghargaan Nobel di bidang ilmu pengetehuan khususnya di bidang fisika. Penemuan terbesar dalam hidupnya ini merupakan kunci yang kemudian mendasari teori fisika partikel yang masih dipakai hingga saat ini. Hal tersebut juga menjadi tonggak penemuan partikel Higgs Boson pada 2012. Abdus Salam menemukan teori apa yang disebut dengan “electroweak” pada 1968, yang juga dianggap sebagai sesuatu yang membantu umat manusia memahami jagat raya, sebelas tahun kemudian. Ia memenangkan Nobel Fisika bersama dua cendikiawan Amerika Serikat yaitu Sheldon Glashow dan Steven Weingberg.
Tahun 1964, selama periode 30 tahun telah menjadi pemimpin dari International Centre of Theoretical Physics (ICTP) di Tritste, Italia. Mengapa Italia dan bukan Pakistan? Jawabannya adalah karena Pakistan tidak menunjukkan perhatian dan minatnya, bertentangan dengan Italia yang justru sangat menginginkan pusat itu dan bersedia mengeluarkan banyak uang. Saat ini, ICTP menekankan pada penilitian dalam bidang fisika benda padat, fisika plasma, fisika lautan dan bumi, matematika terapan, fisika teknologi, sumber daya alam bersamaan dengan fisika garis terdepan. Salam menggunakan bagian dari hadiahnya untuk kepentingan fisikawan dari negara-negara berkembang dan tidak menghabiskan satu dolar pun untuk dirinya. Tahun 1983, Salam mendirikan Third World Academy of Sciences (TWAS), baik TWAS dan ICTP, keduanya memberikan kesempatan langka bagi para fisikawan dan ilmuwan untuk mendapatkan prestasi ilmiah internasional dan untuk berkolaborasi dengan bidang sains lainnya.

Di tangan Salam, kurang lebih 70.000 cendikiawan muda dari 50 negara di dunia umumnya dari negara-negara berkembang, telah lulus dari Sentra Ilmiah. Berkat upayanya yang sangat luar biasa, dalam waktu singkat, Sentra ini telah menjadi tempat bagi para penuntut ilmu beberapa fisikawan. Di sana mereka dapat menggeluti dan bercengkrama dengan tokoh-tokoh utama dari dunia sains.
Kontribusi Abdus Salam

Abdus Salam acapkali menerima penghargaan bergengsi, salah satunya ia menjadi pemenang pertama dari Premium Maxwell dan medali Maxwell yang diberikan oleh Scientific Organisation of the United Kingdom, Premium Robert Oppenheimer (1971), medali Einstein (UNESCO, Paris), medali emas Lomonosov (USSR Academy of Sciencs), dan masih banyak lagi penghargaan dan nominasi-nominasi yang tidak kalah prestisenya. Salam, cendikiawan muslim muda dari Pakistan yang pada tahun 1952 berhasil mendapatkan gelar doktor dalam fisika teoretikal. Thesis yang dikemukakannya adalah tentang elektrodinamika quantum dan karena itu Ia mendapatkan penghargaan premium Smith, bahkan sebelum thesis itu disetujui secara formal.  Dengan dipublikasikannya thesis tersebut, Abdus Salam sudah menjadi bintang baru di bidang fisika teoretikal. Ia juga menjadi pusat perhatian bagi seluruh komunitas fisika international dan memperoleh berbagai penawaran menggiurkan di Eropa.

Terlepas dari banyaknya tawaran yang akan sangat menguntungkan dirinya dan menjamin masa tuanya, ia tetap bersikukuh untuk kembali ke tanah air tercintanya. Salam menganggap kembali ke Pakistan untuk mengabdi pada negara tercintanya merupakan hal yang ia sangat nikmati. Namun,  Pasca beberapa tahun kembali ke Pakistan, Salam menyadari bahwa tanah kelahirannya itu tidak memungkinkan dirinya meneruskan penelitian yang sesuai dengan kapasitas dirinya, sehingga dia memutuskan untuk kembali ke Cambridge. Walaupun demikian, Salam terus memberi sumbangan ilmiah dan pengembangan teknologi kepada negaranya, setidak-tidaknya dalam hal kebijakan. Salah satu hal yang dilakukan Salam adalah berpartisipasi aktif dalam melahirkan program teknologi nuklir Pakistan, program ruang angkasa, dan lembaga atmosfer Suparco.

Kontribusi utama Salam untuk sains, Dunia Ketiga, dan kemanusiaan mulai menonjol di tahun 1960-an. Pada masa itulah Ia bekerja secara independen dari dua fisikawan Amerika (Sheldon Glashow dan Steven Weinberg), yang pada 1979 ketiganya serentak dianugerahi Peraih Nobel Fisika karena prestasi di bidang yang sama yaitu mengembangkan teori electroweak di ranah fisika partikel, suatu sintesis matematika dan konseptual atas gaya elektromagnetik dan gaya nuklir lemah, yang merupakan langkah signifikan dalam pencarian panjang para fisikawan ‘untuk menyatukan empat gaya fundamental alam semesta (gaya gravitasi, gaya elektromagnetik, gaya nuklir lemah, dan gaya nuklir kuat).

Salam dianugerahi gelar ksatria kehormatan oleh Ratu Elizabeth serta banyak hadiah ilmiah. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan mempromosikan pendidikan ilmiah di negara-negara berkembang termasuk penduduk asli Pakistan.


Abdus Salam yang Terabaikan

Pada dasarnya, Abdus Salam adalah orang yang taat beragama sembari merepresentasikan nilai-nilai islam pada dunia. Ia melakukan sholat lima waktu setiap harinya, kapan dan di manapun ia berada. Ia menggabungkan keterampilan intelektual dengan sisi keruhanian dirinya. Dalam pernyataan yang disampaikan kepada publik serta artikel-artikelnya, ia mengatakan bahwa terdapat 750 ayat dalam al-Qur’an sebagai firman Tuhan yang memerintahkan manusia untuk mempelajari alam semesta mencari sarana guna mengendalikannya. Abdus Salam juga menyampaikan bahwa, ia telah mengabdi seluruh hidupnya untuk menerapkan perintah al-Qur’an. Dalam pernyataan yang berbeda, Salam pernah menulis “al-Qur’an memerintahkan kita untuk merenungkan kebenaran dari hukum dan sifat-sifat ciptaan Allah. Namun, generasi kita yang sudah diberikan hak istimewa untuk dapat melihat sekilas bagian dari racangan-Nya adalah karunia dan anugerah, saya  hanya dapat bersyukur dengan sangat rendah hati”. Namun walaupun demikian, keyakinannya sebagai Muslim Ahmadiyah dianggap bukan islam oleh negaranya.

Kebencian terhadap Ahmadiyah dengan hukum yang dilontarkan seperti “penodaaan agama” di Pakistan, telah banyak memakan korban, dari hukum pidana hingga hukuman mati, memicu kelompok islam radikal melakukan aksi penembakan maupun bom bunuh diri saat itu. Bahkan hingga hari ini, pengikut Ahmadiyah di Pakistan masih dianggap sesat, dituduh, dan dipaksa bukan bagian dari islam. Abdus Salam, sang pahlawan bagi ilmu pengetahuan, negara muslim, dan negara Asia tidak luput dari kebencian itu. Walaupun Ia kerap mendapatkan perlakukan diskriminasi, Salam tetap mempertahankan kewarganegaraan Pakistan, menolak tawaran Inggris dan Italia. Di akhir hayat hidupnya, Salam terbaring lemah di kursi roda, ia meninggal saat berumur 70 tahun, di makamkan di Kota Rabwah, Pakistan, tadinya tercantum di nisannya bahwa dia adalah Pemenang Nobel Muslim Pertama. Namun, pemerintah lokal kemudian memerintahkan kata “Muslim” untuk digosok sampai hilang.

Negara-negara berkembang seperti kita masih abai dan berada jauh dari jalan menuju ilmu pengetahuan, itu menandakan kurangnya kita untuk menjadikan pengetahuan dan penyebarannya melalui masyarakat sebagai priotitas. Dalam upaya agar dapat memecahkan isolasi ilmiah dari negara-negara berkembang dan sains internasional. Mohammad Abdus Salam melakukan berbagai cara untuk mendirikan pusat internasional pertama dalam disiplin ilmu serta pandangan untuk meningkatkan ukuran tenaga kerja ilmiah tingkat tinggi. Salam berhasil mengakhiri kesepian dari kehidupan orang-orang yang bekerja di negara-negara akademis yang masih terbelakang.

Kita berhutang budi kepada Abdus Salam, terlepas dari pertimbangan negara maupun keyakinan yang dianutnya, seharusnya latar belakang seseorang tidak memengaruhi kita untuk membecinya, karena pada akhirnya pencapaianlah yang akan membuktikan. Dengan fakta ini dapat kita lihat bahwa sebenarnya ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh orang islam tidak segelap yang sebagian orang bayangkan, kita sebagai generasi muda sudah semestinya tidak hanya menunduk atau berjalan mengikuti arus, buktikan bahwa islam juga merupakan orang-orang yang kompeten dalam bidang ilmu pengetahuan dan tidak hidup di kejayaan masa lalu, kita tak kenal lelah dan tanpa henti sanggup berjuang untuk memberikan prioritas tertinggi pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di negara kita.

[*] Artikel ini ditulis oleh Febry Putri IndahSari dan Annisa Nurliani, mahasiswi semester 3 Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam rangka memenuhi Ujian Akhir Semester mata kuliah Islam dan Ilmu Pengetahuan di bawah bimbingan Dosen Bp. Irfan Abu Bakar, M.Ag.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar