Selama ini kontribusi islam di bidang iptek kurang mendapatkan penghargaan. Sebagian orang menganggap bahwa islam gelap dalam bidang keilmuan, karena yang mereka ketahui hanya bangsa barat yang memiliki keahlian paling mutakhir dalam bidang ilmu pengetahuan. Stereotip tersebut yang timbul karena memang sedikit sekali cendikiawan yang beragama Islam, terutama ahli dalam bidang ilmu fisika. Butuh waktu beberapa tahun untuk mematahkan pernyataan tersebut, karena nyatanya pada abad ke-20 baru terdengar cendikiawan beragama Islam, yang menerima penghargaan dan pengakuan tingkat dunia, beliau adalah Mohammad Abdus Salam. Ada tiga ahli yang diantaranya merupakan pendahulu dirinya seperti Albert Einstein, Niles Bore, dan Ernest Rutherford. Abdus Salam menjadi primadona dari antara para ahli fisika teoritis dari abad yang baru saja lalu, karena identitasnya sebagai seorang Muslim dari Pakistan yang berjuang agar negara-negara berkembang mau berinvestasi di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Hal ini juga bertujuan agar mereka dapat menunjang prospek ekonominya sendiri kelak. Namun banyak yang tidak percaya dengan keahlian yang dimiliki oleh Abdus Salam, karena latar belakang yang dimiliki olehnya yaitu seorang penganut aliran Ahmadiyah.
Siapakah Dia?
Mohammad Abdus Salam, merupakan warganegara
Pakistan yang merupakan sosok pria biasa dan terlahir di keluarga sastra sosial
menengah. Ayahnya seorang guru di sekolah yang ada di Pakistan, juga sosok yang
mendukung penuh edukasi yang ingin ditempuh Salam. Sisi intelektual Salam yang
luar biasa membuat dirinya mendapatkan kesempatan pendidikan kelas satu bahkan
ketika ia masih anak-anak. Pada usia 14 tahun, ia masuk ke Perguruan Tinggi di
Lahore, setelah mampu mencapai nilai tertinggi yang pernah tercatat dalam
sejarah penerimaan murid di Perguruan Tinggi tersebut.
Mohammad Abdus Salam, lahir pada 29 Januari
1926 di Jhang, Punjab, Ia seorang cendikiawan yang menekuni theoretical physics.
Abdus Salam saat ini diakui sebagai ikon dan sumber ilham dari kebangkitan
sains di dunia Islam. Salam nyaris menghabiskan seluruh hidupnya untuk fisika,
mengerahkan seluruh materi yang dimilikinya untuk mengembangkan kualitas
pendidikan di Pakistan kala itu.
Pada 1979, Mohammad Abdus Salam memenangkan penghargaan
Nobel di bidang ilmu pengetehuan khususnya di bidang fisika. Penemuan terbesar
dalam hidupnya ini merupakan kunci yang kemudian mendasari teori fisika
partikel yang masih dipakai hingga saat ini. Hal tersebut juga menjadi tonggak penemuan
partikel Higgs Boson pada 2012. Abdus Salam menemukan teori apa yang disebut
dengan “electroweak” pada 1968, yang juga dianggap sebagai sesuatu yang
membantu umat manusia memahami jagat raya, sebelas tahun kemudian. Ia
memenangkan Nobel Fisika bersama dua cendikiawan Amerika Serikat yaitu Sheldon
Glashow dan Steven Weingberg.
Tahun 1964, selama periode 30 tahun telah
menjadi pemimpin dari International Centre of Theoretical Physics (ICTP)
di Tritste, Italia. Mengapa Italia dan bukan Pakistan? Jawabannya adalah karena
Pakistan tidak menunjukkan perhatian dan minatnya, bertentangan dengan Italia
yang justru sangat menginginkan pusat itu dan bersedia mengeluarkan banyak uang.
Saat ini, ICTP menekankan pada penilitian dalam bidang fisika benda padat, fisika plasma, fisika lautan dan bumi, matematika
terapan, fisika teknologi, sumber daya alam bersamaan dengan fisika garis terdepan.
Salam menggunakan bagian dari hadiahnya untuk kepentingan fisikawan dari
negara-negara berkembang dan tidak menghabiskan satu dolar pun untuk dirinya. Tahun
1983, Salam mendirikan Third World Academy of Sciences (TWAS), baik TWAS
dan ICTP, keduanya memberikan kesempatan langka bagi para fisikawan dan ilmuwan
untuk mendapatkan prestasi ilmiah internasional dan untuk berkolaborasi dengan
bidang sains lainnya.
Di tangan Salam, kurang lebih 70.000 cendikiawan
muda dari 50 negara di dunia umumnya dari negara-negara berkembang, telah lulus
dari Sentra Ilmiah. Berkat upayanya yang sangat luar biasa, dalam waktu
singkat, Sentra ini telah menjadi tempat bagi para penuntut ilmu beberapa fisikawan.
Di sana mereka dapat menggeluti dan bercengkrama dengan tokoh-tokoh utama dari
dunia sains.
Kontribusi Abdus Salam
Abdus Salam acapkali menerima penghargaan
bergengsi, salah satunya ia menjadi pemenang pertama dari Premium Maxwell dan
medali Maxwell yang diberikan oleh Scientific Organisation of the United
Kingdom, Premium Robert Oppenheimer (1971), medali Einstein (UNESCO,
Paris), medali emas Lomonosov (USSR Academy of Sciencs), dan masih banyak lagi
penghargaan dan nominasi-nominasi yang tidak kalah prestisenya. Salam,
cendikiawan muslim muda dari Pakistan yang pada tahun 1952 berhasil mendapatkan
gelar doktor dalam fisika teoretikal. Thesis yang dikemukakannya adalah tentang
elektrodinamika quantum dan karena itu Ia mendapatkan penghargaan premium Smith,
bahkan sebelum thesis itu disetujui secara formal. Dengan dipublikasikannya thesis tersebut,
Abdus Salam sudah menjadi bintang baru di bidang fisika teoretikal. Ia juga
menjadi pusat perhatian bagi seluruh komunitas fisika international dan
memperoleh berbagai penawaran menggiurkan di Eropa.
Terlepas dari banyaknya tawaran yang akan
sangat menguntungkan dirinya dan menjamin masa tuanya, ia tetap bersikukuh
untuk kembali ke tanah air tercintanya. Salam menganggap kembali ke Pakistan
untuk mengabdi pada negara tercintanya merupakan hal yang ia sangat nikmati.
Namun, Pasca
beberapa tahun kembali ke Pakistan, Salam menyadari bahwa tanah kelahirannya
itu tidak memungkinkan dirinya meneruskan penelitian yang sesuai dengan
kapasitas dirinya, sehingga dia memutuskan untuk kembali ke Cambridge. Walaupun demikian, Salam terus memberi sumbangan ilmiah dan
pengembangan teknologi kepada negaranya, setidak-tidaknya dalam hal kebijakan.
Salah satu hal yang dilakukan Salam adalah berpartisipasi aktif dalam melahirkan
program teknologi nuklir Pakistan, program ruang angkasa, dan lembaga atmosfer
Suparco.
Kontribusi
utama Salam untuk sains, Dunia Ketiga, dan kemanusiaan mulai menonjol di tahun
1960-an. Pada masa itulah Ia bekerja secara independen dari dua fisikawan Amerika
(Sheldon Glashow dan Steven Weinberg), yang pada 1979 ketiganya serentak
dianugerahi Peraih Nobel Fisika karena prestasi di bidang yang sama yaitu mengembangkan
teori electroweak di ranah fisika partikel, suatu sintesis matematika
dan konseptual atas gaya elektromagnetik dan gaya nuklir lemah, yang merupakan
langkah signifikan dalam pencarian panjang para fisikawan ‘untuk menyatukan
empat gaya fundamental alam semesta (gaya gravitasi, gaya elektromagnetik, gaya
nuklir lemah, dan gaya nuklir kuat).
Salam
dianugerahi gelar ksatria kehormatan oleh Ratu Elizabeth serta banyak hadiah
ilmiah. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan mempromosikan pendidikan
ilmiah di negara-negara berkembang termasuk penduduk asli Pakistan.
Abdus
Salam yang Terabaikan
Pada dasarnya, Abdus Salam adalah orang yang
taat beragama sembari merepresentasikan nilai-nilai islam pada dunia. Ia
melakukan sholat lima waktu setiap harinya, kapan dan di manapun ia berada. Ia
menggabungkan keterampilan intelektual dengan sisi keruhanian dirinya. Dalam
pernyataan yang disampaikan kepada publik serta artikel-artikelnya, ia mengatakan
bahwa terdapat 750 ayat dalam al-Qur’an sebagai firman Tuhan yang memerintahkan
manusia untuk mempelajari alam semesta mencari sarana guna mengendalikannya.
Abdus Salam juga menyampaikan bahwa, ia telah mengabdi seluruh hidupnya untuk
menerapkan perintah al-Qur’an. Dalam pernyataan yang berbeda, Salam pernah
menulis “al-Qur’an memerintahkan kita untuk merenungkan kebenaran dari hukum
dan sifat-sifat ciptaan Allah. Namun, generasi kita yang sudah diberikan hak
istimewa untuk dapat melihat sekilas bagian dari racangan-Nya adalah karunia
dan anugerah, saya hanya dapat bersyukur
dengan sangat rendah hati”. Namun walaupun demikian, keyakinannya sebagai
Muslim Ahmadiyah dianggap bukan islam oleh negaranya.
Kebencian terhadap Ahmadiyah dengan hukum yang
dilontarkan seperti “penodaaan agama” di Pakistan, telah banyak memakan korban,
dari hukum pidana hingga hukuman mati, memicu kelompok islam radikal melakukan
aksi penembakan maupun bom bunuh diri saat itu. Bahkan hingga hari ini,
pengikut Ahmadiyah di Pakistan masih dianggap sesat, dituduh, dan dipaksa bukan
bagian dari islam. Abdus Salam, sang pahlawan bagi ilmu pengetahuan, negara
muslim, dan negara Asia tidak luput dari kebencian itu. Walaupun Ia kerap
mendapatkan perlakukan diskriminasi, Salam tetap mempertahankan kewarganegaraan
Pakistan, menolak tawaran Inggris dan Italia. Di akhir hayat hidupnya, Salam
terbaring lemah di kursi roda, ia meninggal saat berumur 70 tahun, di makamkan
di Kota Rabwah, Pakistan, tadinya tercantum di nisannya bahwa dia adalah
Pemenang Nobel Muslim Pertama. Namun, pemerintah lokal kemudian memerintahkan
kata “Muslim” untuk digosok sampai hilang.
Negara-negara
berkembang seperti kita masih abai dan berada jauh dari jalan menuju ilmu
pengetahuan, itu menandakan kurangnya kita untuk menjadikan pengetahuan dan
penyebarannya melalui masyarakat sebagai priotitas. Dalam upaya agar dapat
memecahkan isolasi ilmiah dari negara-negara berkembang dan sains
internasional. Mohammad Abdus Salam melakukan berbagai cara untuk mendirikan
pusat internasional pertama dalam disiplin ilmu serta pandangan untuk
meningkatkan ukuran tenaga kerja ilmiah tingkat tinggi. Salam berhasil
mengakhiri kesepian dari kehidupan orang-orang yang bekerja di negara-negara
akademis yang masih terbelakang.
Kita
berhutang budi kepada Abdus Salam, terlepas dari pertimbangan negara maupun
keyakinan yang dianutnya, seharusnya latar belakang seseorang tidak memengaruhi
kita untuk membecinya, karena pada akhirnya pencapaianlah yang akan membuktikan.
Dengan fakta ini dapat kita lihat bahwa sebenarnya ilmu pengetahuan yang
dimiliki oleh orang islam tidak segelap yang sebagian orang bayangkan, kita
sebagai generasi muda sudah semestinya tidak hanya menunduk atau berjalan
mengikuti arus, buktikan bahwa islam juga merupakan orang-orang yang kompeten
dalam bidang ilmu pengetahuan dan tidak hidup di kejayaan masa lalu, kita tak
kenal lelah dan tanpa henti sanggup berjuang untuk memberikan prioritas
tertinggi pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di negara kita.
[*]
Artikel ini ditulis oleh Febry Putri IndahSari dan Annisa Nurliani, mahasiswi
semester 3 Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam rangka memenuhi Ujian Akhir Semester mata
kuliah Islam dan Ilmu Pengetahuan di bawah bimbingan Dosen Bp. Irfan Abu Bakar,
M.Ag.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar